Yayan Sakti Suryandaru, S.Sos.,MSi.

Berpacu menjadi yang terbaik

TEKNIK SAMPLING RISET OPINI PUBLIK

11 January 2013 - dalam Survey Opini Publik Oleh yayan-s-fisip

TEKNIK SAMPLING RISET OPINI PUBLIK

 

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tanpa sengaja kerap berhubungan dalam penggunaan sampel.  Misalnya ketika kita akan membeli jeruk di toko buah kita tidak perlu memakan 1 kilogram jeruk untuk memastikan rasanya cukup memakan 1-2 iris jeruk sebagai sampel untuk memastikan rasanya manis atau tidak.  Demikian juga untuk mencicipi rasa sebuah sayuran, kita tidak perlu memakan 1 mangkuk sayuran cukup merasakan 1-2 sendok.  

Dalam kasus diatas, sampel dipakai sebagai alat untuk mengukur dan menguji sebuah populasi yang ingin kita ketahui.  Ilustrasi diatas dapat kita padankan dengan penjaringan pendapat umum (opini publik) termasuk pendapat masyarakat dalam kaitannya dengan PEMILUKADA.  Dalam kasus ini peneliti akan berhadapan dengan ribuan, puluhan bahkan ratusan ribu pemilih.  Cara terbaik untuk mengetahui bagaimana pendapat mereka adalah dengan menanyakan kepada semua orang.  Teknik ini biasa disebut sebagai SENSUS.  Akan tetapi, cara seperti ini hampir tidak mungkin bisa dilakukan.   Untuk mewawancarai puluhan hingga ratusan ribu orang dibutuhkan waktu yang tidak sedikit (bisa berbulan-bulan).  Sementara itu opini dan pendapat orang mudah dan cepat berganti.   Untuk mengukur opini publik terkait kita perlu melakukan pengukuran secepat mungkin namun bisa mewakili keseluruhan populasi yang ingin kita ketahui.  Satu-satunya cara untuk mengetahui opini publik (masyarakat) adalah dengan menarik sejumlah sampel.   Peneliti tidak perlu mewawancarai seluruh populasi pemilih tetapi hanya sebagian saja dari populasi (seluruh pemilih) di suatu daerah (Kabupaten/Kota/Propinsi).

Jika dilakukan dengan teknik dan metode yang benar, mewawancarai sedikit pemilih bisa menggambarkan pendapat seluruh pemilih yang ada di suatu daerah.   Cara inilah yang dikenal dengan SURVEY PENDAPAT UMUM atau JAJAK PENDAPAT (POLLING).   Pada survey pendapat umum atau jajak pendapat (polling) sampel memainkan peranan yang penting/sentral dalam survey.

Pemakaian sampel akan diperlukan jika bisa digunakan sebagai alat pendugaan.  Dalam survey pendapat umum atau survey pemilukada sampel akan dipakai sebagai alat pendugaan berapa nilai sebuah populasi.   Jika dalam survey pemilukada seorang calon bupati/walikota mendapatkan sekian persen suara,  peneliti akan dapat menduga berapa perolehan suara seorang calon bupati/walikota jika PEMILUKADA dilakukan saat ini.   Tindakan ini disebut dengan pendugaan (inferensi) atau dikenal dengan GENERALISASI.   Tentu saja untuk melakukan generalisasi dengan benar dibutuhkan beberapa prasyarat.  Teknik penarikan sampel harus dilakukan secara benar.  Salah satu syarat penarikan sampel itu haruslah dilakukan secara acak (random).  Teknik ini akan memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel.

 

MENGAPA PERLU SAMPEL

Survey pendapat umum atau jajak pendapat kerap dilawankan dengan sensus.   Dalam sensus peneliti mewawancarai semua anggota populasi sementara dalam survey pendapat umum atau jajak pendapat peneliti hanya mengambil dan mewawancarai sebagian anggota populasi.   Ada beberapa pertimbangan mengapa dalam pengukuran pendapat umum  digunakan sampel bukan populasi keseluruhan.  Pertimbangan tersebut antara lain:

  1. 1.        Hampir tidak mungkin mengamati semua anggota populasi

Dalam penjaringan pendapat publik peneliti akan dihadapkan dengan pemilih yang sangat besar.  Tidak mungkin mewawancarai semua pemilih tersebut.  Cara ini bukan hanya tidak efektif tetapi juga memakan waktu yang sangat lama.

  1. 2.        Menghemat waktu, tenaga dan biaya

Pemakaian sampel dalam mengukur pendapat publik dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya.   Kalo peneliti akan mewawancarai semua pemilih di sebuah daerah, bisa jadi akan dibutuhkan ratusan bahkan ribuan pewawancara dan biaya yang dikeluarkan akan sangat besar.   Hal yang tidak bisa ditoleransi adalah waktu. Pendapat pemilih terhadap seorang calon kepala daerah (Bupati/Walikota/Gubernur) maupun perilaku pemilih bisa dengan cepat berubah.  Penelitian yang terlalu lama potensial akan menghasilkan temuan yang keliru (salah) karena saat penelitian dipublikasikan bisa jadi opini publik telah berubah.  Misalnya survey mengenai dukungan terhadap kandidat bupati bisa setiap saat berubah dengan cepat.  Jika penelitian dilakukan terlalu lama, kita bisa keliru menentukan kandidat b berubah.  Misalnya survey mengenai dukungan terhadap kandidat bupati bisa setiap saat berubah dengan cepat.  Jika penelitian dilakukan terlalu lama, kita bisa keliru menentukan kandidat bupati dengan dukungan terbesar.   Oleh karena itu pemakaian survey pendapat umum atau jajak pendapat justru akan menghasilkan temuan yang lebih akurat dalam merefleksikan pendapat pemilih.

  1. 3.        Pemakaian sampel seringkali lebih akurat

Secara teoritis, mewawancarai semua pemilih di sebuah kabupaten atau kota (sensus) bisa menghasilkan sebuah kesimpulan yang mendekati kebenaran.  Tetapi kerapkali terjadi, hasil dari suatu penelitian yang menggunakan sampel lebih baik daripada penelitian dengan menyertakan semua anggota populasi.   Mengapa hal ini bisa terjadi?  Karena mewawancarai semua anggota populasi memang mengurangi kesalahan dalam pengambilan sampel (seringkali disebut dengan sampling error), namun akan lebih banyak kesalahan yang muncul dari manusia (dalam hal ini pewawancara) yang sering disebut dengan human error (non sampling error).   Semakin banyak orang yang diwawancarai maka secara teoritis akan semakin besar kemungkinan kesalahan wawancara dan makin besar pula jawaban yang tidak bisa dianalisis.  Yang lebih penting, pemakaian sampel umumnya bisa membuat penelitian lebih fokus dan dan mendalam.  Dengan jumlah orang yang lebih sedikit, peneliti bisa membuat desain pertanyaan yang lebih mendalam (komprehensif).

 

SAMPLING DAN NON SAMPLING ERROR

Dalam survey pendapat umum atau jajak pendapat yang melibatkan sejumlah sampel ada 2 kesalahan (error) yang mungkin terjadi,  pertama kesalahan yang muncul dari pengambilan sampel (sampling error) dan kesalahan yang muncul dari kegiatan wawancara dan kemampuan pewawancara (non sampling error).

Kesalahan yang muncul akibat pengambilan sampel tidak bisa dihindari dalam setiap pengukuran pendapat umum atau jajak pendapat.   Oleh karena itu peneliti harus menetapkan sampling error tertentu yang muncul dari kesalahan dalam pengambilan sampel.  Penentuan sampling error lazim dikenal dengan margin error (ME).   Penetapan sampling error atau margin error akan berimplikasi pada jumlah sampel yang diambil dalam mewakili populasi pemilih di sebuah Kabupaten/Kota atau Propinsi.

Sementara itu kesalahan yang muncul bukan dari pengambilan sampel atau lazim disebut kesalahan akibat prosedur wawancara yang dilakukan (non sampling error) diupayakan seminimal mungkin dihindari dalam kegiatan survey pendapat umum atau jajak pendapat.   Jika non sampling error terjadi sangat besar walaupun sampling error/margin error yang ditetapkan kecil maka tetap saja akan hasil yang diperoleh menjadi tidak akurat.

Non sampling error banyak disebabkan dari human error dalam hal ini pewawancara sebagai ujung tombak survey pendapat umum atau jajak pendapat.   Hal tersebut bisa muncul dari pemahaman pewawancara terhadap materi pertanyaan,  pemahaman pewawancara dalam prosedur penetapan sampel atau kemampuan pewawancara dalam proses wawancara dengan pemilih (face to face interview).   Untuk menghindari terjadinya non sampling error biasanya peneliti harus mendesain sebuah pelatihan bagi interviewer (pewawancara) mengenai bagaimana prosedur wawancara yang baik.  Demikian juga harus dilakukan briefing kepada pewawancara (interview) berhubungan dengan materi survey pendapat umum atau opini publik.

POPULASI DAN KERANGKA SAMPEL

Dalam survey opini publik, sangat penting mengetahui secara jelas terlebih dahulu siapa populasi kita.  Kesalahan menentukan populasi, akan berdampak pada kesalahan pada sample yang dihasilkan.  Sebagus apapun teknik penarikan sample yang kita pakai, hasilnya akan bias kalau sejak awal kita salah dalam menentukan populasi

Pengenalan mengenai konsep-konsep dasar penarikan sample akan diuraikan terlebih dahulu sebelum uraian mengenai teknik penarikan sample.  Konsep-konsep dasar dari sample itu adalah : populasi, populasi target,, elemen unit sample, dan kerangka sample.

  1. Elemen/Unit Sampel

Elemen adalah unit yang akan diteliti dan menjadi dasar analisis.  Dalam penelitian survey umumnya elemen adalah orang, misalnya penduduk, mahasiswa, buruh atau pemilih.  Elemen berupa orang inilah yang akan kita teliti (diwawancarai) dan menjadi dasar kita dalam melakukan analisis.

  1. Populasi

Populasi adalah semua bagian atau anggota dari obyek yang akan diamati.  Populasi bisa berupa orang, benda, obyek, peristiwa, ataupun yang menjadi obyek dari survey kita.  Langkah awal yang harus dillakukan pertama kali oleh peneliti adalah menentukan siapa populasi dari survey.

Populasi ditentukan oleh topik dan tujuan survey.  Pertanyaan yang harus dijawab peneliti adalah apa yang ingin diteliti?  Pertanyaan ini penting karena tujuan survey yang berbeda akan menghasilkan populasi yang berbeda pula.

Tujuan survey

Generalisasi

Populasi

Elemen

Survey ingin menggambarkan bagaimana pengetahuan pemilih pemula di Pamekasan

Pemilih pemula yang ada di Pamekasan

Semua pemilih pemula di Pamekasan

Pemilih

Survey ingin mengetahui tanggapan mahasiswa Univ Trunojoyo atas kebijakan sistem penerimaan mahasiwa baru

Mahasiswa Universitas Trunojoyo

Semua mahasiswa Universitas Trunojoyo

Mahasiswa

 

  1. Populasi Sasaran

Populasi adalah konsep abstrak, tidak bisa ditunjuk secara langsung.  Agar lebih operasional (bisa dihitung, bisa diukur), populasi haruslah didefinisikan secara jelas dan spesifik.  Populasi yang sudah didefinisikan ini disebut sebagai populasi sasaran (target population).  Dalam populai sasaran, peneliti harus menjelaskan secara spesifik batasan dan definisi dari populasi yang dipakai.  Ketika merumuskan populasi sasaran, ada 2 aspek yang harus diperhatikan peneliti yaitu populasi sasaran sangat tergantung pada tujuan dari survey dan populasi sasaran harus mendefinisikan kriteria dari elemen yang dimasukkan dalam populasi sasaran.  Selain dua aspek tersebut, populasi sasaran harus juga mempertimbangkan akses untuk menjangkau populasi.

Populasi

Definisi spesifik

Populasi sasaran (Target population)

Semua pemilih pemula di Kabupaten Pamekasan

  1. (What) ; definisi pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali mempunyai hak pilih pada Pemilu
  2. (Who)  ; pemilih pemula yang diteliti dibatasi pada pemilih yang terdaftar (mempunyai kartu pemilih)
  3. (Where)  :  pemilih pemula yang mempunyai kartu pemilih di Kabupaten Pamekasan

Semua pemilih yang baru pertama kali mempunyai hak pilih di Pamekasan.

Pemilih harus mempunyai kartu pemilih saat Pemilu Legsiatif 9 April 2009 di TPS yang ada di Pamekasan

Semua pasien rumah sakit yang ada di RSUD Kab Sumenep

  1. (What) : Pasien adalah mereka yang menjalani perawatan di Rumah Sakit  Pemerintah (RSUD)
  2. (Who) : pasien dibatasi hanya mereka yang menjalani rawat inap (tidak termasuk yang menjalani rawat jalan)
  3. (Where) : Pasien di RSUD Kab Pamekasan
  4. (When) : pasien yang menjalan rawat inap selama bulan Nopember 2010

Semua pasien rawat inap di RSUD Kab Sumenep selama bulan Nopember 2010

 

  1. Unit sampel

Unit sampel adalah elemen yang menjadi dasar dalam penarikan sampel.  Dalam penarikan sampel yang sederhana (satu tahap), unit sampel identik dengan elemen.  Dalam survey yang kompleks (dengan sejumlah tahap penarikan sampel), unit sampel bisa beberapa jenis.  Setiap tahap penarikan sampel, peneliti harus menentukan elemen apa yang menjadi dasar dalam penarikan sampel.  Dalam setiap survey, unit sampel harus dirumuskan dengan jelas karena menjadi dasar penentuan dan penarikan sampel.  Unit sampel ini umumnya dirumuskan dengan beragam istilah.  Misalnya Primary Sampling Unit (PSU) yaitu unit sampel pertama yang diambil oleh peneliti, misalnya PSU adalah desa atau kelurahan.  Ada lagi yang disebut dengan Secondary Sampling Unit (SSU) yaitu unit sampel di bawah PSU, misalnya Rukun Tetangga (RT).  Sementara  unit sampel yang terakhir adalah Final Sampling Unit yaitu rumah tangga.

  1. Kerangka Sampel

Kerangka sampel menjamin semua anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama terpilih sebagai sampel.  Kerangka sampel ditentukan oleh populasi sasaran yang sudah dibuat.  Kerangka sampel yang baik harus memuat semua nama anggota populasi. Tidak boleh ada anggota populasi yang tidak dimasukkan dalam kerangka sampel karena kerangka sampel menjadi dasar penarikan sampel.  Kerangka sampel yang baik harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. Komprehensif  :  kerangka sampel disebut komprehensif jika kerangka sampel memasukkan semua anggota populasi sasaran.
  2. Probabilitas  ;  kerangka sampel yang baik juga harus menjamin setiap anggota populasi dalam daftar kerangka sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel
  3. Efisien ; kerangka sampel harus efisien – mudah didapatkan dan tidak membutuhkan biaya dan tenaga besar untuk mendapatkannya

Unit sampel (Sampling Unit)

Kerangka sampel

Akses/Cara mendapatkan

Pemilih pemula

Daftar nama semua pemilih pemula di Kab Pamekasan

DPT yang tersedia di KPUD Pamekasan

Mahasiswa Universitas Trunojoyo

Daftar nama semua mahasiswa Univ Trunojoyo Program Sarjana

Tersedia di Bagian Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo

 

MENENTUKAN BESARNYA SAMPEL

Aspek penting lain dari penarikan sampel adalah menentukan besarnya sampel.  Teknik penarikan sampel yang baik menjamin agar sampel yang didapat menjadi representasi dari populasi.  Sementara itu, besarnya sampel berkaitan dengan seberapa jauh hasil dari sampel bisa kita generalisasi dengan populasi.

Penarikan jumlah sampel berkaitan dengan seberapa jauh kita menginginkan ketelitian dari suatu sampel.  Menentukan besarnya sampel tergantung pada 3 (tiga) hal yaitu keragaman (variasi) dari populasi, batas kesalahan yang dikehendaki (sampling error), dan interval kepercayaan (confidence interval).

  1. Rumus jumlah sampel untuk Populasi Besar (Tidak diketahui)

n =  Z2. p (1 – p)/ e2

dimana ;  Z :  nilai Z pada  interval kepercayaan, p = variasi populasi yang dikehendaki, e adalah kesalahan sampel yang dikehendaki (sampling error), dan n = jumlah sampel

  1. Rumus jumlah sampel untuk populasi kecil (diketahui)

n  =  [Z2. {p * (1-p)}* N]/ [Z2 {p * (1-p)} + (N-1). E2]

dimana ;  Z :  nilai Z pada  interval kepercayaan, p = variasi populasi yang dikehendaki, e adalah kesalahan sampel yang dikehendaki (sampling error),  N = jumlah populasi dan    n = jumlah sampel

 

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Sebelum peneliti mengambil sampel, peneliti harus terlebih dahulu menentukan pendekatan yang akan dipakai.   Apakah survey dipakai sebagai alat untuk melakukan generalisasi (membuat estimasi dari suatu populasi pemilih) atau tidak.  Sampel dengan tujuan generalisasi haruslah representative (mewakili populasi).  Sementara sampel yang tidak dipakai dengan tujuan generalisasi tidak memerlukan syarat harus mewakili populasi.   Dalam survey pemilukada sampel harus memenuhi tujuan generalisasi.   Berdasarkan pertimbangan ini ada 2 jenis pendekatan pengambilan sampel, yaitu sampel probabilitas dan non probabilitas.

  1. Sampling probabilitas

Penarikan sample dengan metode ini digunakan untuk survey dengan tujuan generalisasi.  Mayoritas survey opini publik termasuk survey kebijakan publik dan  survey pemilukada mempergunakan pendekatan ini.   Hasil dari survey dipakai untuk mengestimasi suara dari masyarakat (populasi).   Supaya sample bisa dipakai untuk tujuan itu maka harus memenuhi prinsip probabilitas.  Prinsip ini terjadi apabila sample diambil berdasarkan asas keacakan (randomness).  Artinya setiap elemen atau unsur dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sample.

Beberapa jenis teknik penarikan sample dengan pendekatan probabilitas antara lain adalah :

  1. Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
  2. Sampel Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)
  3. Sampel Acak Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
  4. Sampling Acak Klaster (Cluster Random Sampling)
  5. Sampling Acak Bertahap (Multistage Random Sampling)
  6. Sampling Wilayah (Area Random Sampling)

 

       
     
 

Teknik Sampling

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sampel Bola Salju (Snowball sampling)

Sampel Purposif

Sampel Kuota

Sampel Sembarang

(Convenience Sampling)

Non Probabilitas

Sampel Wilayah

(Area Random Sampling)

 

 

 

  1. Sampel Non Probabilitas

Penarikan sampel dengan pendekatan non probabilitas merupakan kebalikan dari sampel probabilitas yaitu penarikan sampel dilakukan dengan tidak memperhitungkan hukum kebetulan.  Sampel yang ditarik dengan pendekatan ini dilakukan menurut subyektifitas peneliti.  Oleh karena itu, survey dengan menggunakan teknik ini tidak bisa dipakai untuk generalisasi.  Hasil survey semata hanya menjelaskan sampel.  Sampel dengan pendekatan ini hanya dipakai untuk survey yang tidak terlalu mementingkan aspek representasi atau keterwakilan.  Di samping itu banyak, metode penentuan sampel seperti ini banyak digunakan ketika peneliti mengalami hambatan teknik di lapangan.  Penarikan sampel non probabilitas terdiri atas :

  1. Sampel sembarang (accidental sampling)
  2. Sampel kuota (Kuota sampling)
  3. Sampel purposive (purposive sampling)
  4. Sampel bola salju (snowball sampling)

 

TEKNIK MULTISTAGE RANDOM SAMPLING

Teknik sampling multistage random sampling adalah teknik penarikan sampel yang banyak dipakai dalam survey atau riset opini publik termasuk dalam survey/riset pemilukada.  Banyak lembaga survey atau konsultan survey opini publik  mempergunakan teknik ini dalam pengambilan survey atau riset opini publik dan survey atau riset pemilukada.

Teknik penarikan acak bertingkat (Multistage Random Sampling) adalah pengembangan dari acak klaster.  Pada sampel acak klaster, kita pertama kali tidak melakukan acak atas individu, tetapi gugus dimana individu berada.  Dari gugus itu kemudian individu anggota gugus terpilih diambil.  Pada acak klaster, tahapan dalam penarikan sampel hanya dua, pertama menarik klaster dimana individu berada.  Kedua, menarik anggota dalam gugus atau klaster sebagai sampel.  Pada acak bertingkat, gugus atau klaster sangat besar.  Karena besar, maka gugus itu haruslah dipecah lagi ke dalam beberapa gugus, baru individu diambil.  Oleh karena itu teknik ini disebut sampel acak bertingkat.

Misalnya :  Kita mengambil studi kasus sampel pemilukada Kabupaten Sumenep, maka tahapan-tahapan dalam penentuan sampel acak bertingkat adalah sebagai berikut:

  1. Membagi pemilih pada masing-masing Kecamatan di wilayah Kabupaten Sumenep.  Jumlah sampel pada masing-masing kecamatan proporsional dengan jumlah pemilih yang ada pada masing-masing kecamatan.
  2. Menetapkan Primary Sampling Unit (PSU) dalam hal ini kelurahan/desa yang ada di Kabupaten Sumenep.  Jumlah PSU atau desa/kelurahan yang diambil pada masing-masing kecamatan tergantung jumlah sampel yang diambil pada masing-masing kecamatan di wilayah Kabupaten Sumenep.

Dalam 1 kelurahan/desa (PSU) biasanya diambil sampel 10 responden.  Desa atau kelurahan terpilih diambil secara acak dari seluruh desa/kelurahan dalam kecamatan dimana setiap desa/kelurahan mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih.

  1. Menetapkan Secondary Sampling Unit (SSU) dalam hal ini Rukun Tetangga (RT) terpilih. RT terpilih pada kelurahan terpilih di wilayah Kabupaten Sumenep.   Dalam 1 RT maksimal jumlah sampel adalah 2 (dua) responden.   Jumlah RT terpilih berdasarkan jumlah sampel pada masing-masing kelurahan/desa.   RT terpilih harus terambil secara acak dari seluruh RT pada kelurahan terpilih, dimana setiap RT mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih
  2. Menetapkan Final Sampling Unit (FSU) yaitu rumah tangga terpilih.

Metode yang dipakai dalam penentuan rumah tangga bisa menggunakan teknik acak sederhana (simple random sampling) atau sampling acak sistematis (systematic random sampling) berdasarkan data rumah tangga yang diperoleh dari Ketua RT.

  1. Menetapkan responden terpilih pada rumah tangga terpilih dengan menggunakan metode kishgrid, dimana setiap responden yang memiliki hak pilih pada rumah tangga terpilih memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih
  2. Membagi sampel berdasarkan kuota pemilih di Kabupaten Sumenep (stratified random sampling) berdasarkan : gender, usia, strata pendidikan, urban/rural


Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :